KESEHATAN HEWAN, KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN USAHA AGRIBISNIS di TANAH BUMBU

Surel Cetak PDF

KESEHATAN HEWAN, KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN USAHA AGRIBISNIS

Peternakan menjadi salah satu usaha yang sangat menunjang dalam pertumbuhan ekonomi baik perekonomian masyarakat, perekonomian daerah maupun perekonomian nasional. Hal tersebut tidak terlepas dari peran penting bidang peternakan yang secara langsung berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat, baik itu terkait pola hidup maupun kesempatan kerja dimana dalam perkembangannya bidang peternakan selalu menunjukan pada arah peningkatan dan pertumbuhan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut Bidang Keswan Kesmavet dan Usaha Agribisnis termotivasi untuk mengembangkan kegiatan di bidang peternakan dengan selalu berusaha mengarah kepada berbagai perbaikan, baik secara kuantitas maupun kualitas terutama yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan hewan (keswan) dan kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet).

Visi dari kesehatan hewan adalah terwujudnya status kesehatan hewan yang ideal melalui pembangunan kesehatan hewan yang maju, efektif dan efesien. Sedangkan misinya yaitu:

1. Melindungi Hewan

2. Melindungi Masyarakat

3. Melindungi Lingkungan

4. Memfasilitasi Perdagangan

Kegiatan pengembangan di bidang peternakan tidak terlepas dari usaha perbaikan – perbaikan berupa pelayanan kesehatan hewan, membina dan memonitoring kesehatan masyarakat veteriner, serta terus mengadakan pembinaan dan pendampingan dalam kegiatan Usaha Agribisnis Peternakan.

Adapun kegiatan usaha agribisnis peternakan di Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2013 diarahkan pada pemberdayaan para peternak, pelaku usaha, usaha rumah tangga, sumberdaya manusia dan usaha pengolahan hasil peternakan baik skala kecil maupun menengah dengan maksud untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya sistem agribisnis yang berdaya saing, berkeadilan dan berkelanjutan.

- Usaha agribisnis peternakan sebagian besar adalah usaha peternakan rakyat yang saat ini masih menghadapi tantangan mulai dari permodalan, sumber daya manusia, teknologi, tatalaksana, maupun adanya kesamaan kepentingan diantara pelaku usaha. Untuk menyikapi hal tersebut maka Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu terus menerus berupaya memfasilitasi dengan berbagai kebijakan diantaranya dalam bentuk kemitraan.

- Kemitraan adalah kerjasama yang dilakukan antara pemilik modal dan peternak / kelompok ternak disertai pengawasan dan pembinaan dengan memperhatikan prinsip- prinsip yang saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Adapun kegiatan kemitraan yang sudah dilakukan antara lain : 1) Budidaya ternak kambing,

2) Usaha ayam ras pedaging/broiler dan

3) Pengolahan hasil ternak.

Demi menunjang kemajuan di sektor peternakan, pada tahun 2013 Seksi Keswan Kesmavet melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut :

I. KEGIATAN PELAYANAN KESEHATAN HEWAN (KESWAN)

Kegiatan pelayanan kesehatan hewan di Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2013 secara garis besar terdiri dari ; A) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular (PHM), B) Pengobatan Ternak.

A. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular (PHM)

Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular (PHM) di Kabupaten Tanah Bumbu yang telah dilaksanakan meliputi Penyakit Rabies, Jembrana, Brucellosis, Newcastle Disease (ND), dan Avian Influenza (AI). Usaha yang dilakukan dalam mendukung program tersebut telah diupayakan dengan melaksanakan vaksinasi, eliminasi, pengobatan ternak, diagnosa kemajiran, stamping out (potong paksa) pada ternak yang dinyatakan positif brucellosis, penyemprotan kandang dengan desinfektan dan pengawasan lalu lintas hewan serta pemeriksaan daging di Tempat Pemotongan Hewan (TPH).

Kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular (Rabies, Jembrana, Brucellosis, Newcastle Disease (ND), dan Avian Influenza (AI) selama tahun 2013 adalah sebagai berikut :

1. Pengendalian Penyakit Rabies (Anjing Gila)

Penyakit Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit akut pada sistem saraf yang disebabkan oleh virus kelompok familia Rhabdoviridae dan genus Lyssavirus, bersifat zoonosis dan ditularkan melalui gigitan (air liur) hewan penular rabies dari semua jenis hewan berdarah panas dan manusia. Virus rabies selain terdapat pada susunan syaraf pusat (otak) juga terdapat pada air liur hewan penderita rabies, sehingga penularan rabies pada manusia atau hewan lain terjadi melalui gigitan hewan penderita rabies atau luka yang terkena air liur manusia atau hewan penderita rabies.

Hewan tersangka pembawa rabies di Indonesia dikenal didapati pada anjing, kera, dan kucing.

Tabel 1. Daftar Populasi Anjing Kabupaten Tanah Bumbu

No

Kecamatan

Tahun (ekor)

 

2010

2011

2012

2013

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Batulicin

Simpang Empat

Karang Bintang

Mantewe

Satui

Angsana

Sungai Loban

Kuranji

Kusan Hulu

Kusan Hilir

34

236

507

321

313

51

656

556

83

147

72

268

286

275

403

74

570

401

186

210

58

249

395

279

290

87

556

362

145

102

52

188

318

265

278

91

521

463

117

108

Jumlah

2.980

2.904

2.523

2.401

Berdasarkan tabel populasi anjing di Kabupaten Tanah Bumbu dari tahun ke tahun selalu mengalami penurunan. Pada Tahun 2013 populasi anjing di Kabupaten Tanah Bumbu sebanyak 2.401 ekor, mengalami penurunan dari total populasi tahun sebelumnya. Penurunan populasi tersebut akan sangat berpengaruh terhadap penekanan penyebaran penyakit rabies terutama yang disebabkan oleh anjing – anjing liar ataupun anjing peliharaan yang tidak dipelihara dengan baik. Penurunan populasi ini tidak terlepas dari program kegiatan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) melalui eliminasi / peracunan anjing liar atau anjing peliharaan yang tidak dipelihara dengan baik dan dibiarkan berkeliaran disekitar masyarakat.

Upaya penanggulangan penyakit yang telah dilakukan yaitu dengan mengkonsentrasikan kegiatan eliminasi / peracunan dan vaksinasi pada anjing dengan metode Local Area Solving (LAS) serta sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya rabies guna menekan kasus penyebaran penyakit di Kabupaten Tanah Bumbu.

Dugaan penyebaran penyakit rabies di Kabupaten Tanah Bumbu masih terjadi, hal tersebut dengan ditandai masih adanya kasus gigitan sepanjang tahun 2013 yaitu sebanya 25 kasus gigitan. Terjadinya kasus gigitan ini diduga hanya karena perilaku agresifitas pada anjing, ini dibuktikan tidak adanya laporan dari masyarakat kasus gigitan dengan anjing yang menggigit mempunyai ciri – ciri mengarah ke positif penyakit rabies sehingga Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan untuk tahun 2013 ini tidak ada mengirim sampel otak atau kepala anjing ke Laboratorium Balai Veteriner Banjarbaru, hanya dianjurkan kalau terjadi kasus gigitan anjing agar anjing yang menggigit diobservasi minimal 14 hari ke depan kalau tidak terjadi kematian pada anjing yang menggigit berarti anjing tersebut negatif Penyakit Rabies.

Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Rabies di Kabupaten Tanah Bumbu pada tahun 2013 terbagi menjadi 2 kegiatan, yaitu Vaksinasi Rabies pada anjing peliharaan dan Eliminasi / peracunan anjing liar atau anjing peliharaan yang tidak dirawat dengan baik.

a. Vaksinasi Rabies

Kegiatan vaksinasi rabies dilaksanakan pada anjing peliharaan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit rabies. Pada tahun 2013 program kegiatan vaksinasi dilaksanakan hanya dalam 1 kali kegiatan yaitu pada bulan Agustus sampai dengan September 2013. Realisasi kegiatan vaksinasi rabies yang dilaksanakan selama tahun 2013 sebanyak 1.286 ekor. Adapun sumber dana untuk pengadaan vaksin rabies dibantu dari dana APBD I sebanyak 50 vial atau 500 dosis, yang digunakan 45 vial atau 450 dosis, sisa vaksin 5 vial atau 50 dosis. Pengadaan vaksin sumber dana dari APBD II sebanyak 200 vial atau 2000 dosis dan telah didistribusikan ke Puskeswan – Puskeswan. Operasional untuk petugas pelaksana dibantu dari dana APBN sebanyak 10.000 dosis. Untuk lebih jelasnya realisasi kegiatan vaksinasi rabies dapat dilihat pada table 2.

Tabel 2. Realisasi Kegiatan Vaksinasi Rabies di Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2013

No

Kecamatan

Vaksinasi (ekor)

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Batulicin

Simpang Empat

Karang Bintang

Mantewe

Satui

Angsana

Sungai Loban

Kuranji

Kusan Hilir

Kusan Hulu

-

112

160

61

101

-

390

419

-

43

 

Jumlah

1.286

b. Eliminasi

Kegiatan eliminasi dilaksanakan pada anjing liar dan anjing peliharaan yang tidak tervaksin serta anjing peliharaan yang tidak dipelihara dengan baik dan dibiarkan berkeliaran disekitar pemukiman masyarakat. Pada tahun 2013 program kegiatan eliminasi dilaksanakan pada bulan Januari s/d Februari dan bulan November. Selain sesuai dengan jadwal, kegiatan eliminasi juga dilaksanakan atas permintaan masyarakat melalui surat dari kepala desa atau permintaan dari instansi terkait. Realisasi kegiatan eliminasi yang telah dilaksanakan sepanjang tahun 2013 sebanyak 182 ekor. Untuk operasional petugas pelaksana menggunakan dana APBD II. Untuk lebih jelasnya realisasi eliminasi dapat dilihat pada table 3.

Tabel 3. Realisasi Kegiatan Eliminasi di Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2013

No

Kecamatan

Eliminasi (ekor

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Batulicin

Simpang Empat

Karang Bintang

Mantewe

Satui

Angsana

Sungai Loban

Kuranji

Kusan Hilir

Kusan Hulu

50

19

14

3

13

2

19

29

23

10

 

Jumlah

182

 

Permasalahan – permasalahan pada program pencegahan dan penanggulangan Penyakit Rabies yang sering dijumpai di lapangan antara lain; keterbatasan tenaga medis dan paramedis, belum optimalnya dukungan masyarakat terhadap program pemberantasan Penyakit Rabies, kendala luas dan jarak wilayah, kondisi jalan yang rusak pada musim hujan, pemilik anjing kurang kerjasama dengan para petugas, adanya pandangan yang keliru dari sebagian pemilik anjing bahwa apabila anjingnya divaksinasi akan mengakibatkan anjing tersebut tidak galak lagi.

c. Kasus Gigitan

Selama tahun 2013 kasus gigitan anjing di Kabupaten Tanah Bumbu terjadi sebanyak 25 kasus. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya kasus gigitan mengalami penurunan, dimana pada tahun 2012 kasus gigitan sebanyak 68 kasus. Kasus gigitan biasanya terjadi di desa – desa dengan populasi anjingnya tinggi atau di desa – desa yang masyarakatnya banyak memelihara anjing. Terjadinya kasus gigitan anjing diduga hanya karena prilaku agresifitas pada anjing, hal tersebut biasa terjadi pada induk anjing yang baru melahirkan, anak – anak anjing yang menginjak remaja dan orang atau tamu yang baru dikenalnya. Untuk mengantisipasi terjadinya kasus penyakit rabies maka pencegahan seperti vaksinasi rabies harus selalu dilaksanakan secara berkala. Untuk lebih jelasnya kasus gigitan yang terjadi selama tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Kasus Gigitan Anjing di Kabupaten Tanah Bumbu

Tahun 2013

No

Kecamatan

Kasus Gigitan

1

2

3

Simpang Empat

Karang Bintang

Sungai Loban

5

9

11

 

Jumlah

25

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Tanah Bumbu Tahun 2013

2. Pengendalian Penyakit Jembrana

Penyakit jembrana adalah penyakit Viral pada sapi, yang secara spesifik terjadi pada sapi Bali. Tanda-tanda ternak terserang penyakit Jembrana ditandai dengan depresi, anoreksia, demam, perdarahan ekstensif di bawah kulit, dan kebengkakan pada kelenjar limfe terutama limfoglandula prefemoralis dan preskapularis serta diare berdarah. Pada tahun 2013 ini kasus penyakit jembrana relatif menurun tajam dari tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari peran aktif petugas teknis di lapangan dan koordinasi yang baik dengan para peternak sapi.

Tabel 5. Daftar Pengambilan Serum Darah Sapi Pemeriksaan Dugaan Penyakit Jembrana Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2013

 

No

Lokasi

Tanggal Pelaksanaan

Jumlah Serum

Keterangan

Kecamatan

Desa

 

1.

2.

3.

 

Angsana

Karang Bintang

Mantewe

 

Sumber Baru

Madu Retno

Dukuh Rejo

 

30 Mei 2013

02 Mei 2013

30 April 2013

 

20 sampel

50 sampel

36 sampel

 

Jumlah

106 sampel

 

Pengambilan serum darah untuk pemeriksaan penyakit jembrana tahun 2013 ini sebanyak 106 sampel dilaksanakan bekerjasama dengan Balai Veteriner Banjarbaru. Di Kabupaten Tanah Bumbu sepanjang tahun 2013 tidak ditemukan kasus positif penyakit jembrana yang dinyatakan berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Veteriner Banjarbaru, hanya ditemukan dugaan kasus dengan ciri – ciri penyakit jembrana sebanyak 18 ekor. Mengingat penyakit Jembrana ini dapat menyebabkan kematian pada ternak sapi dan sangat merugikan dipandang dari segi ekonomi maka upaya pencegahannya harus terus ditingkatkan.

Tabel 6. Kegiatan Pencegahan dan Penyidikan Penyakit Jembrana

di Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2013

No

Kecamatan

Volume (ekor)

Ket.

Vaksinasi

Pemeriksaan Serum

Kasus Penyakit

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

 

Batulicin

Satui

Angsana

Karang Bintang

Kuranji

Sungai Loban

Kusan Hulu

Kusan Hilir

Mantewe

Simpang Empat

 

134 dosis

455 dosis

395 dosis

269 dosis

410 dosis

205 dosis

468 dosis

57 dosis

452 dosis

155 dosis

 

-

-

20 sampel

50 sampel

-

-

-

-

36 sampel

-

 

-

12 ekor

5 ekor

-

-

-

-

-

-

1 ekor

 

Kejadian penyakit jembrana sebanyak 18 ekor masih berupa dugaan, belum ada hasil laboratorium dari Balai Veteriner Banjarbaru yang menyatakan positif penyakit jembrana.

Jumlah

3300 dosis

106 sampel

18 ekor

Upaya untuk menangani penyakit jembrana yang paling efektif dilakukan adalah tindakan preventif atau pencegahan yaitu dengan cara vaksinasi. Realisasi vaksinasi Jembrana sepanjang tahun 2013 sebanyak 858 dosis. Adapun sumber dana kegiatan vaksinasi Jembrana, ada dari APBD II sebanyak 30 botol atau 1500 dosis, dari APBD I sebanyak 30 botol atau 1500 dosis sedang dari APBN sebanyak 20 botol atau 1000 dosis. Sepanjang 2013 pengadaan vaksin jembrana sebanyak 80 botol atau 4000 dosis, yang sudah didistribusikan ke petani peternak melalui petugas baik petugas yang ada di Puskeswan, Dinas maupun Petugas Teknis yang ada di lapangan sebanyak 66 botol atau 3300 dosis.. Selain tindakan vaksinasi, tindakan pencegahan dan pemberantasan yang telah dilakukan adalah pengobatan ternak yang sakit untuk mencegah penyakit sekunder dengan menggunakan antibiotik, vitamin, dan anti histamin serta pemberantasan vektor yang merupakan hewan atau serangga pembawa/penyebar bibit penyakit dengan menggunakan insektisida.

2. Pengendalian Penyakit Brucellosis

Penyakit Brucellosis (keluron menular) adalah penyakit hewan menular yang dapat menular pada manusia (zoonosis), disebabkan oleh bakteri genus brucella. Pada sapi tanda – tanda klinis yang utama adalah keguguran/kluron menular yang dapat diikuti dengan kemajiran temporer atau permanen dan menurunnya produksi susu.

Pada sapi betina akan terjadi :

1. Keguguran yang biasanya terjadi pada kebuntingan 5 – 8 bulan. Bakteri akan tetap hidup pada kandungan sapi, air susu, dan pada anak yang telah dilahirkan.

2. Fetus lahir dalam kondisi lemah dan pada akhirnya akan mati.

3. Anak terlahir sebagai sumber penularan.

4. Menyebabkan peradangan pada kandungan (endometritis) yang akhirnya akan

menyebabkan kemajiran yang bersifat temporer atau permanent.

Pada sapi jantan akan terjadi :

1. Radang pada testis (orkhitis).

2. Radang pada epididimis (epididimitis).

3. Sperma (semen) pada sapi mengandung bakteri brucella.

Tanda – tanda pada manusia antara lain demam berkeringat, nyeri otot (pegal), sakit kepala, linu tulang, lesu, sulit tidur, kejadian tersebut berlangsung tahunan.

Meskipun prevalensi reaktor brucellosis khususnya Kabupaten Tanah Bumbu masih sangat rendah (dibawah 0,1%) mengingat penyakit ini bersifat zoonosis, maka secara rutin dilakukan pemeriksaan secara serologic melalui Uji Rose Bengal Test (RBT) dan Uji Complement Fixation Test (CFT) untuk mengetahui adanya zat kebal (antibodi) terhadap brucella abortus didalam serum darah sapi.

Dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit brucellosis dilakukan tindakan – tindakan sebagai berikut : standardisasi diagnosa brucellosis, metode reagen maupun diagnostiknya ; penentuan daerah – daerah tertular dan bebas brucellosis ; penentuan kelompok hewan bebas atau tertular brucellosis ; penentuan kebijaksanaan penggunaan vaksin brucellosis; pembebasan lokasi daerah sumber bibit dan daerah kelompok ternak yang bebas brucellosis.

Selama tahun 2013 telah dilakukan pengambilan serum darah sapi untuk pemeriksaan Brucellosis. Serum dikirim ke Balai Veteriner Banjarbaru. Jumlah serum yang dikirim selama tahun 2013 adalah sebanyak 376 sampel. Sampel darah sapi diambil pada daerah yang pernah terjangkit Brucellosis dan daerah yang diduga telah tertular penyakit Brucellosis. Untuk operasional petugas dalam pengambilan serum brucellosis dibantu dari dana APBN sebanyak 170 sampel dari dana APBD II sebanyak 206 sampel. Realisasi pengambilan sampel dapat dilihat pada table 7.

Tabel 7. Daftar Pengambilan Sampel Serum Darah Sapi Pemeriksaan Dugaan Penyakit Brucellosis Tahun 2013

No

Lokasi

Bulan Pelaksanaan

Jumlah Serum

Keterangan

Kecamatan

Desa

 

1.

2.

 

3.

4.

5.

6.

7.

8.

 

Angsana

Satui

 

Kuranji

Mantewe

Karang Bintang

Kusan Hulu

Kuranji

Sungai Loban

 

Banjarsari

Tegal Sari

Satui Barat

Ringkit

Dukuh Rejo

Madu Retno

Krg Mulya

Ringkit

Sari Mulya

 

Mei

Juni

Mei

Mei

Mei

Mei

Nov.

Nov.

Nov.

 

20

20

206

10

10

10

17

39

44

 

 

 

 

 

 

Jumlah

376

 

4. Pengendalian Penyakit Newcastle Disease (ND)

Penyakit Newcastle Disease (ND) atau penyakit tetelo disebabkan oleh Myxrovirus multiforme dari grup myxoviruses. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan vaksinasi. Tanda spesifik yang terlihat pada ayam kampung yang terkena ND adalah kepala mengarah keatas dan tertekuk ke belakang (tortikolis), mata mengantuk, tidak mau makan, dan sayap terkulai. Angka kematian (mortalitas) dapat mencapai 90% dari total ayam yang dipelihara. Pada tahun 2013 di Kabupaten Tanah Bumbu ditemukan unggas ( ayam kampung ) yang diduga terserang penyakit Newcastle Disease (ND) sebanyak 75 ekor.

Dalam rangka pengendalian penyakit Newcastle Disease (ND) di Kabupaten Tanah Bumbu, mengingat penyakit ini masih ditemukan sepanjang tahun 2013, maka kegiatan yang telah dilaksanakan selama tahun 2013 adalah berupa pelaksanaan vaksinasi ND, melakukan desinfeksi kandang, dan sosialisasi kepada pelaku usaha perunggasan. Realisasi kegiatan vaksinasi ND sebanyak 2300 dosis pada ayam buras yang pelaksanaannya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

5. Pengendalian Penyakit Avian Influenza (AI)

Penyakit Avian Influenza (AI) adalah penyakit unggas yang sangat menular dan mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Avian Influenza Type A (H5N1) serta bersifat Zoonosis. Selain itu penyakit AI ini juga menyerang beberapa jenis ternak unggas lainnya seperti misalnya itik, ayam broiler, ayam buras, ayam crossing dan burung puyuh. Pada Tahun 2013 tidak ada laporan dari masyarakat terjadi kasus penyakit Avian Influenza (AI) di Kabupaten Tanah Bumbu. Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka pengendalian penyakit Avian Influenza (AI) selama tahun 2013 adalah meningkatkan biosecurity di lokasi pemeliharaan unggas dengan :

- Melaksanakan pemantauan dan monitoring terhadap kejadian kasus yang diduga penyakit AI.

- Meningkatkan pengawasan lalu lintas ternak unggas, produk unggas dan limbah peternakan.

- Depopulasi dan disposal pada peternakan yang dinyatakan positif AI.

- Monitoring dan evaluasi.

- Koordinasi dengan instasi terkait.

- Menyebarkan buku, brosur, poster-poster, dan pemasangan spanduk tentang gejala dan cara pencegahan penyakit Flu Burung (Avian Influenza).

- Melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang penyakit AI.

- Melakukan desinfeksi pada beberapa kandang yang tersebar di Kabupaten Tanah Bumbu yang berpotensi terjangkit penyakit AI.

Pengambilan serum unggas untuk pemeriksaan dugaan penyakit AI (H5N1) juga telah dilakukan, jumlah pengambilan serum unggas sebanyak 13 sampel. Operasional petugas pelaksana dengan menggunakan dana dari APBD I yang ditargetkan untuk Kab. Tanah Bumbu sebanyak 50 sampel, realisasi hanya 13 sampel. Realisasi pengambilan serum unggas untuk pemeriksaan dugaan penyakit Avian Influenza (AI) dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8. Daftar Pengambilan Serum Unggas untuk Pemeriksaan Dugaan Penyakit Avian Influenza (AI)

 

No

Lokasi

Bulan Pelaksanaan

Jumlah Serum

Keterangan

Kecamatan

Desa

 

1.

 

Karang Bintang

 

Manunggal

Juni

13

 

 

Jumlah

 

13

 

Tindakan selanjutnya untuk mencegah datangnya wabah penyakit juga dilakukan desinfeksi pada kandang peternak ayam buras, broiler dan puyuh. Desinfeksi kandang bertujuan untuk mensucihamakan kandang dari kuman dan jamur. Desinfektan yang terpakai selama tahun 2013 mencapai 133 liter. Adapun pengadaan desinfektan dibantu dari sumber dana APBD I tahun 2013 ini sebanyak 15 liter sisa desinfektan tahun 2012 sebanyak 41 liter jadi jumlah desinfektan dari APBD I sebanyak 56 liter sedang pengadaan desinfektan sumber dana APBN sisa tahun 2012 ini sebanyak 103 liter. Jadi jumlah desinfektan yang tersedia pada tahun 2013 ini sebanyak 159 liter, sampai bulan Desember 2013 sudah didistribusikan ke masyarakat sebanyak 133 liter.

Tabel 9. Distribusi Desinfektan dalam Rangka Pengendalian Penyakit Avian Influenza (AI) Tahun 2013

No

Kecamatan

Volume (liter)

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

 

Batulicin

Simpang Empat

Karang Bintang

Sungai Loban

Kusan Hilir

Kuranji

Mantewe

Angsana

Kusan Hulu

Satui

 

15

8

1

29

57

1

3

12

7

-

Jumlah

133

Beberapa permasalahan yang dihadapi di lapangan dalam melaksanakan program pengendalian dan pemberantasan penyakit AI di Kabupaten Tanah Bumbu adalah sebagai berikut:

1. Keterbatasan tanaga medis dan paramedis.

2. Tidak memiliki check point untuk melakukan pengawasan terhadap lalu lintas ternak, khususnya unggas.

3. Sistem pemeliharan unggas di masyarakat masih bersifat ekstensif.

4. Rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat.

B. Pengobatan Ternak

Kegiatan pengobatan ternak termasuk juga pengobatan darurat, telah dilaksanakan terhadap ternak ruminansia besar, ternak ruminansia kecil maupun ternak unggas. Kegiatan pengobatan dilakukan pada ternak milik pemerintah dan ternak milik masyarakat. Jumlah realisasi kegiatan pengobatan darurat yang telah dilakukan sebanyak 770 dosis.

II. KEGIATAN KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER (KESMAVET)

Kegiatan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) dalam upaya untuk penyediaan sumber pangan hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal adalah sebagai berikut :

1. Pembinaan Tempat Pemotongan Hewan (TPH)

Kegiatan pembinaan tempat pemotongan hewan merupakan salah satu kegiatan Bidang Keswan Kesmavet dan Usaha Agribisnis dalam rangka penyediaan pangan hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) dalam pengertian daging yang diperoleh aman dikonsumsi, utuh dari segi mutu (nilai gizi), kesehatan, keselamatan dan keyakinan serta menekan dan mengurangi perubahan mutu maupun kerusakan yang menurunkan keutuhan kualitas dan kuantitas daging. Pada tahun 2013 dilakukan kegiatan - kegiatan sebagai berikut :

a. Pembinaan kepada petugas keur master, pedagang ternak dan pejagal agar melaksanakan pemotongan ternak sesuai dengan prosedur yang berlaku.

b. Pengawasan pemotongan hewan besar betina produktif

c. Pengawasan daging ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal)

2. Pengawasan dan Pengendalian Kesehatan Daging

Kegiatan pengawasan dan pengendalian kesehatan daging dilakukan ditempat pemotongan hewan baik pada saat sebelum hewan dipotong maupun setelah dipotong. Berdasarkan hasil pemeriksaan hati di tempat pemotongan hewan di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu tidak ditemukan kasus penyakit cacing hati (Fascioliasis), baik pada ternak kambing maupun sapi. Pengawasan terhadap higienisasi bahan pangan asal hewan dilakukan oleh Balai Veteriner Banjarbaru berkoordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan dengan melaksanakan kegiatan monitoring residu dan cemaran mikroba. Adapun tempat pelaksanaan pengambilan sampel yaitu di Pasar Ampera Kelurahan Tungkaran Pangeran Kecamatan Simpang Empat. Sampel yang diambil sebanyak 28 sampel yang terdiri dari; daging ayam sebanyak 5 sampel, daging sapi sebanyak 4 sampel, daging itik sebanyak 2 sampel, daging kambing sebanyak 2 sampel, hati sapi sebanyak 9 sampel, telor ayam sebanyak 4 sampel, dan bakso daging sapi sebanyak 2 sampel. Dari seluruh sampel yang diperiksa hanya 2 sampel yang positif mengandung residu dan cemaran mikroba yaitu sampel hati ayam, yang positif residu Aminoglikosida. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10. Hasil Uji Laboratorium Balai Vetereiner Banjarbaru terhadap bahan pangan asal hewan yang mengandung residu dan cemaran mikroba

No

Pemilik

Lokasi

Desa/Kel.

Kecamatan

Hewan

Jenis Sampel

Keterangan

1

2

Esah

Noeraini

Pasar Ampera

Pasar Ampera

Tungakaran Pangeran

Tungkaran Pangeran

Simpang Empat

Simpang Empat

Ayam

Ayam

Hati

Hati

Positif Aminoglikosida

Positif Aminoglikosida

Residu dan cemaran mikroba bahan pangan asal hewan perlu pengawasan yang lebih intensif dan dilaksanakan diseluruh pasar – pasar yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu, sehingga masyarakat atau konsumen bahan pangan asal hewan mendapatkan bahan pangan asal hewan yang sehat. Untuk itu Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan perlu menganggarkan dana untuk pengawasan tersebut agar bisa dilaksanakan secara berkala.

Dalam kegiatan pengawasan dan pengendalian kesehatan daging, selain kegiatan pengawasan residu dan cemaran mikroba, perlu juga dilaksanakan terhadap kegiatan pengawasan pemotongan ternaknya. Kegiatan pemotongan ternak di Kabupaten Tanah Bumbu terpusat pada 3 pasar yaitu pasar Simpang Empat, pasar Pagatan dan pasar Sungai Danau, serta 2 TPH di Kecamatan Sungai Loban dan Kecamatan Angsana. Total pemotongan pada tahun 2013 yaitu sapi sebanyak 4230 ekor, kerbau 10 ekor, dan kambing 2403 ekor.

Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1434 H / Tahun 2013 M yang didalamnya ditandai dengan adanya ibadah qurban, maka demi menjaga kehalalan serta kualitas daging yang akan dikonsumsi oleh masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu, diterapkan pola pemotongan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal) dan pencegahan penyakit zoonosis serta sekaligus untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat veteriner, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu melakukan pengawasan pemotongan dan pengamatan penyakit terhadap hewan qurban baik sebelum maupun sesudah dipotong. Jumlah hewan qurban terdiri dari sapi sebanyak 548 ekor, kerbau 8 ekor, dan kambing 124 ekor.

3. Pembangunan Rumah Potong Hewan

Permintaan akan daging di Kabupaten Tanah Bumbu sangat besar baik daging unggas maupun daging sapi. Pemotongan Ternak di Kabupaten Tanah Bumbu dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan terutama untuk ternak besar (sapi). Pada tahun 2012 Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu melalui sumber dana APBD II melaksanakan pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) di Desa Sungai Kecil Kecamatan Simpang Empat dengan volume kegiatan 1 paket. Sedang tahun 2013 ini, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan melanjutkan pembangunan rumah potong hewan dengan melaksanakan pekerjaan Perencanaan Perlengkapan Rumah Potong Hewan. Pagu pekerjaan Perencanaan Perlengkapan Rumah Potong Hewan ini sebesar Rp 35.000.000,- setelah proses penunjukan realisasi perencanaan perlengkapan rumah potong hewan tersebut sebesar Rp 21.850.000,-.

 

Kalender Tanam Terpadu (KATAM)

Surel Cetak PDF

DATA KAB. TANAH BUMBU, PROV. KALIMANTAN SELATAN (6310)
Silahkan Klik menu sesuai dengan keinginan

You are here Home